Minggu, 28 April 2013

「ALBUM TANPA JUDUL」Album Kedua


          “Ohayou gozaimasu”
          Arini menoleh kearah datangnya suara itu dan alangkah terkejutnya Arini melihat pemilik suara itu. Dia adalah laki-laki itu, orang Jepang yang dia lihat saat dia pertama kali ke Sunset Magazine. Orang Jepang yang berkulit agak kecoklatan tingginya sekitar seratus tujuh puluhan centimeter, berambut pendek dan berwarna hitam dan diberi gel agar tampak  berdiri seperti bulu landak.
“Tada, ini Arini. Staff baru disini. Arini, ini Matsumoto Tadayoshi, dia fotografer freelance disini”, kata Akiko memperkenalkan Arini dengan laki-laki itu.
“Matsumoto desu. Yoroshiku onegaishimasu –saya Matsumoto. Mohon bantuannya”, kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Arini yang segera berjabat tangan dengan laki-laki itu.
“Saya Arini. Mohon bantuannya, Matsumoto san”, balas Arini.
“Akiko, ini foto untuk cover Sunset Magazine untuk edisi bulan depan”, kata Tada pada Akiko.
“Oke. Terima kasih”, kata Akiko.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada pekerjaan di tempat lain hari ini”, kata Tada lagi.
“Ya, aku mengerti. Kamu kan memang orang sibuk. Hati-hati ya”, kata Akiko.
“Oke. Terima kasih”, jawab Tada dan kemudian dia berjalan meninggalkan ruangan Divisi Jepang dan menghilang dibalik pintu.
Arini masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya tadi. Dia berjabat tangan dengan laki-laki itu yang ternyata adalah salah satu fotografer freelance di Sunset Magazine dan satu divisi dengan Arini.
“Apakah ini yang namanya takdir?”, sekilas terlintas kalimat itu dalam benak Arini. “Sudahlah. Yang jelas aku harus lebih fokus dengan pekerjaanku. Yosh, ganbare Arini”, katanya dalam hati.
Saat ini diruangan Divisi Jepang hanya ada Arini dan Akiko. Staff yang lainnya sedang mencari berita dan melakukan wawancara dengan narasumber untuk artikel Sunset Magazine edisi selanjutnya. Karyawan di Divisi Jepang Sunset Magazine hanya ada lima orang termasuk Akiko dan ditambah dengan Arini kini menjadi enam orang.
“Arini, ini konsep untuk artikel Sunset Magazine edisi berikutnya. Silahkan kamu pelajari dulu. Besok kita akan hunting-hunting foto untuk artikel ini”, kata Akiko sambil menyerahkan beberapa lembar kertas pada Arini. Tema untuk artikel edisi berikutnya yang harus dikerjakan oleh Arini dan Akiko adalah pernikahan dan konsep kali ini adalah Wedding in Paradise.
“Baiklah, Nakayama san”, jawab Arini.
Arini membaca dengan seksama kertas yang diberikan oleh Akiko. Dia ingin melakukan yang terbaik untuk pekerjaan pertamanya ini. Awalnya Arini mengalami kesulitan untuk mencerna apa yang tertulis di kertas tersebut, namun untunglah Akiko mau mengajari Arini. Penjelasan yang diberikan Akiko cukup mudah dimengerti, sehingga Arini tidak perlu waktu yang lama untuk memahaminya.
“Sudah jam dua belas lewat sepuluh menit. Arini, ayo istirahat dulu”, kata Akiko. “Saya mau ke kantin. Kamu mau ikut?”, tambah Akiko.
“Ah, iya, saya ikut”, jawab Arini.
Mereka berdua pun pergi untuk makan siang di kantin Sunset Magazine yang terletak di lantai satu. Sekarang ruangan Divisi Jepang Sunset Magazine pun kosong, tak ada seorang pun disana.
****
Jam dinding di ruangan Divisi Jepang Sunset Magazine sudah menunjukkan pukul lima sore lewat lima menit dan itu tandanya jam kerja pun telah berakhir. Semua hal yang diperlukan untuk hunting foto keesokan harinya sudah disiapkan oleh Arini dengan sebaik mungkin.
“Nakayama san, saya sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk besok sesuai dengan list. Silahkan dicek sekali lagi”, kata Arini pada Akiko.
Arigatou gozaimasu”, kata Akiko yang kemudian memeriksa apa yang telah disiapkan Arini. “Semuanya sudah lengkap. Terima kasih Arini. Kamu boleh pulang sekarang”, kata Akiko setelah ia selesai memeriksa benda-benda yang diperlukan untuk pekerjaan keesokan harinya.
“Terima kasih Nakayama san”, kata Arini dan dia segera membereskan mejanya lalu mengambil tasnya.
“Lho, Nakayama san tidak pulang?”, tanya Arini yang melihat Akiko masih mengerjakan sesuatu.
“Iya sebentar lagi. Kamu pulang saja duluan. Hari ini kamu ada kuliah kan?”
“Iya ada. Kalau begitu saya pulang duluan. Shitsurei shimasu - permisi.”
Arini pun meninggalkan Akiko sendirian di ruangan Divisi Jepang dan segera bergegas pulang karena Arini harus kuliah malam ini. Sesampainya di parkiran Arini bertemu dengan Tada yang terlihat baru saja memarkir mobilnya tak jauh dari tempat Arini memarkir motornya. Tada pun tersenyum pada Arini. Dan senyuman Tada itu membuat Arini merasa tak bisa menolak pesona Tada.
“Astaga, dia tersenyum”, kata Arini dalam hati dan tanpa sadar Arini pun ikut tersenyum membalas senyumam Tada.
Mereka tidak saling menyapa satu sama lain, dan Tada langsung menuju pintu masuk Sunset Magazine dan perlahan mulai menghilang dari pandangan Arini. Arini masih tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja dia alami.
“Pasti aku betah disini kalau ada cowok ganteng seperti Matsumoto san setiap hari”, pikir Arini.
****
“Arini”, tiba-tiba ada suara yang memanggil Arini saat dia akan menaiki tangga menuju lantai dua gedung timur kampusnya.
Telinga Arini sudah sangat akrab dengan suara yang baru saja memanggilnya. Suara itu milik Jun, teman sekelas Arini sekaligus sahabatnya sejak semester pertama Arini menjadi mahasiswi. Arini pun menoleh kearah laki-laki kurus itu. Jun tidak terlalu tinggi, tetapi tidak pendek juga. Kulitnya putih dan rambutnya berwarna coklat kehitaman senada dengan warna bola matanya. Jun pun berjalan menghampiri Arini yang telah menghentikan langkahnya karena menunggu Jun. Mereka berdua memang sangat akrab, sampai seringkali orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasih.
“Rin, gimana hari pertama kerjanya?”, tanya Jun yang sekarang berjalan bersama Arini di koridor lantai dua menuju kelas mereka.
“Syukurlah semuanya lancar”, jawab Arini sambil tersenyum.
“Sepertinya ada yang menarik nih?”, kata Jun lagi.
“Himitsu –rahasia”, kata Arini dengan senyum tersurat di bibirnya.
Kata “rahasia” yang terucap dari bibir Arini membuat Jun semakin penasaran akan apa yang terjadi di hari pertama Arini bekerja. Setelah meletakkan tas nya diatas bangku, Jun yang masih penasaran pun menghampiri Arini.
“Rin, ayo cerita. Pasti ada yang seru ya. Jangan buat aku penasaran.”
“Himitsu”, lagi-lagi Arini mengulangi.
“Ya sudahlah. Berhubung aku kakak yang baik, jadi aku tunggu deh sampai kamu mau cerita”, kata Jun menyerah membujuk Arini untuk bercerita.
“Lagi-lagi Jun pakai jurus itu. Iya, aku akan cerita”, kata Arini.
“Sudah ku duga, pasti berhasil”, kata Jun sambil tersenyum.
Arini sudah menganggap Jun seperti keluarganya sendiri, tepatnya seorang kakak. Meskipun mereka satu angkatan dan sekelas, tapi Jun berusia lebih tua satu tahun dari Arini. Dari awal Jun memang sudah menganggap Arini seperti adiknya sendiri dan Arini yang anak tunggal pun menerima tawaran Jun untuk menjadi kakaknya dengan senang hati. Jun merupakan tempat Arini berbagi segala keluh kesah maupun kebahagiaan.  Tidak ada hal yang ditutupi Arini dari Jun, begitu juga sebaliknya.
Saat Arini akan mulai menceritakan hari pertamanya bekerja, korti kelas mereka memberitahukan kalau dosen untuk mata kuliah jam pertama hari ini tidak dapat mengajar karena sedang sakit, lalu sebagai gantinya mereka harus mengerjakan tugas yang diberikan.
“Jun, nanti saja aku lanjutkan ceritanya. Sekarang kita kerjakan saja ini dulu”.
“Tentu saja ini yang harus didahulukan”.
Mata kuliah saat ini adalah terjemahan. Mereka mendapat tugas menerjemahkan beberapa paragraf cerita yang diambil dari sebuah novel berbahasa Jepang. Setelah sepuluh menit mengerjakan tugas itu, Arini memanggil Jun.
“Jun, kanji ini apa bacaannya ya? Hehehe…”, tanya Arini.
“Ah, kamu ini payah, sudah semester seperti sekarang tapi kanji semudah itu saja tidak bisa kamu baca”, jawab Jun.
“Yeee… Jangan galak gitu dong. Dasar Jun. Ya sudah aku tanya sama yang lain aja. Jun pelit”, kata Arini.
“Wew, ngambek. Adik manis jangan ngambek dong”, rayu Jun.
“Biarin. Pokoknya gak akan aku ceritakan tentang hari pertama kerjaku pada Jun”, kata Arini lagi.
Mata Arini kembali terarah pada foto copy teks yang ada di depan matanya lalu lanjut mengerjakan tugasnya dan tidak menghiraukan omongan Jun. Mereka berdua memang sering terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran karena hal-hal sederhana karena mereka berdua sama-sama keras kepala. Tapi pertengakaran mereka hanya akan berlangsung paling lama sepuluh menit.
“Jun…”, kata Arini
“Apa?”
“Aku menyerah yang bagian ini. Aku boleh liat punya Jun ya. Hehehe …”, kata Arini.
“Tuh kan, akhirnya tanya juga”, kata Jun sambil memberikan kertas jawabannya tugasnya yang sudah selesai pada Arini.
“Arigatou, Jun”
Tujuh menit kemudian Arini berhasil menyelesaikan tugasnya, meskipun dia mencontek beberapa kalimat pada Jun. Setelah mengumpulkan tugasnya, Arini dan Jun memutuskan untuk pergi ke kantin sekaligus melanjutkan cerita Arini yang tertunda.
Arini menceritakan yang dia alami hari ini pada Jun. Saat menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Matsumoto Tadayoshi, Arini tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya. Dia sangat antusias saat menceritakan tentang Tada.
“Jangan jangan kamu jatuh cinta sama Matsumoto itu ya?”, kata Jun tersenyum.
“Ah, masa sih? Aku kan baru dua kali bertemu dengannya, jadi hal itu sepertinya tidak mungkin terjadi”, Arini menyanggah kata-kata Jun.
“Saaa…. Siapa yang tahu kan. Kata orang cinta itu bisa muncul kapan saja dan dimana saja”, kata Jun lagi.
“Jun sok tahu. Padahal Jun juga minus pengalaman kan. Menyatakan cinta sama cewek aja gak pernah”, sindir Arini.
“Wah, apa-apaan ini? Kenapa jadi aku yang diserang?”
“Sudah lupakan saja”, kata Arini yang saat ini senyumnya sudah memudar dari wajahnya.
***
Denpasar di pagi hari. Pukul sembilan kurang sepuluh menit, Arini sudah sampai di kantornya, Divisi Jepang Sunset Magazine. Hari ini untuk pertama kalinya Arini akan bekerja langsung dilapangan. Jadwal kerja hari ini adalah pemotretan untuk artikel Sunset Magazine dan wawancara dengan seorang make-up artist yang biasa menjadi perias pengantin di salah satu Wedding Organizer yang ada di Bali. Lokasi pemotretannya adalah di sebuah hotel yang sering menjadi pilihan orang Jepang untuk melangsungkan pernikahannya di Bali yang ada di daerah Nusa Dua.
“Arini, tolong bawa semua perlengkapan yang sudah disiapkan kemarin dan masukkan kedalam mobil. Lima menit lagi kita berangkat”, kata Akiko.
“Baik Nakayama san”
Setelah semuanya beres, Arini dan Akiko pun berangkat ke lokasi pemotretan. Perjalanan mereka sedikit terhambat karena sedang ada perbaikan jalan dan pembuatan lajur jalan yang baru. Akiko yang sedang menyetir pun sedikit menghela nafas.
“Huft. Setiap hari selalu saja macet. Kapan ya jalan ini selesai diperbaiki?”, kata Akiko.
“Menurut berita, selesainya tahun depan”, jawab Arini.
“Semoga saja cepat selesainya. Saya lelah kalau harus terjebak dalam kemacetan seperti ini setiap harinya”, keluh Akiko.
Arini mengangguk pertanda mengiyakan pernyataan Akiko. Selama sepuluh menit kendaraan mereka tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu Akiko menyalakan musik di mobilnya untuk mengusir kepenatan di tengah kemacetan seperti itu.
“Fotografer untuk hari ini adalah Matsumoto san. Nanti kita akan bertemu di lokasi”, kata Akiko tiba-tiba.
“Baik”, jawab Arini singkat dan Arini merasa senang karena bisa bertemu lagi dengan Tada hari ini.
Lima puluh lima menit kemudian Akiko dan Arini sampai di hotel yang mereka tuju. Dari kejauhan mereka melihat mobil Tada sudah terpakir rapi di tempat parkir dan terlihat Tada yang baru keluar dari mobilnya. Akiko menyerahkan SIM nya pada satpam untuk ditukar dengan kartu tanda pengunjung, lalu Akiko segera mencari tempat untuk memarkir mobilnya. Kemudian Arini mengeluarkan tas dari mobil yang berisi recorder, beberapa buku catatan dan pulpen, daftar pertanyaan yang akan dipakai saat wawancara nanti dan perlangkapan lainnya. Lalu mereka berdua menghampiri Tada.
“Ohayou gozaimasu”, Akiko dan Arini menyapa Tada.
“Ohayou gozaimasu”, Tada yang sedang menyiapkan kameranya balas menyapa.
“Semuanya sudah siap?”, tanya Akiko pada Tada.
“Sudah”, jawab Tada sambil memasukkan beberapa lensa kamera, baterai, dan memory card ke dalam tas yang akan dibawanya saat pemotretan, lalu dia mengalungkan kameranya dilehernya dan menggantungkan kameranya yang satu lagi di bahunya dan menjinjing tasnya yang berisi lensa kemera.
Akiko berjalan duluan masuk kedalam hotel yang kemudian diikuti oleh Tada dan Arini berjalan paling belakang. Mereka tidak masuk ke hotel melalui lobi, tetapi melalui pintu samping. Koridor yang mereka lalui cukup panjang, dan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan di ujung koridor. Didepan ruangan itu tertulis Flower Wedding Office. Akiko mengetuk pintu sambil mengatakan “Shitsurei itashimasu-permisi”.
“Hai”, terdengar jawaban dari dalam ruangan itu.
Akiko, Arini dan Tada kemudian masuk keruangan itu. Ruangan itu terlihat seperti ruangan kantor pada umumnya, dan di dekat pintu masuk ada satu set sofa dan sebuah meja kecil yang diperuntukkan bagi tamu, Ada seorang laki-laki yang merupakan supervisor in charge hari itu dan seorang staff wanita yang berusia sekitar awal tiga puluhan tahun. Keduanya adalah orang Jepang.
“Ohayou gozaimasu”, kata Akiko dan Tada bergantian.
“Ohayou gozaimasu, Nakayama san, Matsumoto san”, wanita itu balas menyapa dan kemudia laki-laki itu pun ikut menyapa.
“Murakami san, Tanaka san, perkenalkan, ini staff baru kami, namanya Arini”, Akiko memperkenalkan Arini pada kedua orang Jepang itu, yang wanita bernama Murakami dan yang laki-laki bernama Tanaka.
“Perkenalkan, saya Arini. Mohon bantuannya”
“Mohon bantuannya”.
“Nakayama san, Matsumoto san, mari kita langsung ke lokasi saja. Modelnya sudah siap. Setelah sesi pemotretan baru kita lakukan sesi wawancara dengan Takano, make up artist kami”, jelas Murakami pada Akiko.
“Baiklah”.
Mereka pun menuju ke lokasi pemotretan, yaitu sebuah taman yang ditengahya ada kolam ikan yang cukup luas dan diatas kolam itu ada sebuah jembatan kayu yang menghubungkan sisi kolam satu dengan sisi lainnya. Taman itu didominasi dengan pohon kamboja yang bunganya berwarna putih dan kekuningan.
 Tada kini telah bersiap-siap untuk melakukan pemotretan, modelnya pun sudah siap. Model wanita memakai baju pengantin berwarna putih yang elegan dan dihiasi dengan payet berwarna putih mengkilap. Sedangkan model laki-lakinya memakai setelan jas berwarna putih pula. Tada mulai mengarahkan model untuk berpose sesuai dengan yang dia inginkan. Saat sedang bekerja Tada terlihat sangat serius dan terkesan sangat tidak ramah. Senyum yang dilihat Arini di wajah Tada kemarin, saat ini sudah hilang dari wajahnya.
“Matsumoto san terlihat berbeda dari yang kemarin”, pikir Arini. “Tapi mungkin saja dia begitu hanya saat sedang bekerja”.
“Arini, ayo kita tunggu disebelah sana”, ajak Akiko.
“Eh?”, reaksi dari Arini.
“Sebelum Tada marah-marah kerena kita menghalanginya, jadi lebih baik kita tunggu disana saja. Di saat-saat seperti ini, Tada bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan kalau dia merasa terganggu”, kata Akiko lagi.
“Eh?”, kata Arini bingung.
“Sudah ikut saja”.
Arini mengikuti perintah Akiko dan mereka menunggu tak jauh dari kolam yang ada di taman itu. Arini masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Akiko tentang Tada.
Arini terus memperhatikan cara kerja Tada yang seorang fotografer professional. Dengan cekatan dia memotret modelnya dalam berbagai pose dan dengan latar pemandangan yang berbeda. Saat ini tada sedang meminta modelnya berpose di atas jembatan. Setelah memotret beberapa kali, tiba-tiba saja Tada berteriak pada Arini.
“Arini, jangan berdiri disana. Omae, jama –kamu mengganggu”, kata Tada dengan nada suara tinggi.
“Akiko, kamu juga, pindah dari sana”, kata Tada lagi.
Kata-kata Tada dengan nada tinggi itu membuat Arini terkejut.
“Apa?”, kata Arini dalam hati.
“Omae, jama”, kalimat itu terus terngiang di telinga Arini dan itu membuatnya kesal. Tada yang tadinya terlihat baik dimata Arini, kini nilai kebaikan Tada mulai berkurang satu poin dimata Arini.





Yoshi’s note:
Ohisashiburi…
Ternyata Album Tanpa Judul udah tiga bulan gak di update. Hahahhaa…
Maklum saja, penulis gaje. Oke tanpa basa basi lagi,
Terima kasih buat para pembaca yang sudah sudi membaca karya gaje ini.
Arigatou….. Mohon di tunggu Album selanjutnya ya
Ja, Yoshi deshita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar